Selasa, 09 November 2010

NAK, JADILAH KAU KUPU-KUPU YANG BISA TERBANG TINGGI.....!!!




Jam ke tiga ini giliranku ngajar di kelas IX G. Kumasuki kelas dengan senyum dan perasaan riang. Setelah menyapa murid-murid dan mempersiapkan mereka untuk memulai pelajaran, kutanyakan apakah PR tentang Procedure Text yang kemarin kuberikan telah mereka kerjakan.
“Sudaaaaah...!”, jawab murid- murid. Sebagian lagi, kurang lebih 20% dari mereka, menjawab, “beluuuuuum...!’’
Setelah mengecek hasil kerja mereka, aku tahu bahwa banyak siswa hanya menyalin PR hasil temannya. Maka dengan tersenyum aku berkata, “ Ibu puas dengan hasil kerja kalian tapi sayangnya tidak semuanya mengerjakan. Padahal jika kalian mengerjakan PR pasti kalian bisa mengerjakan tugas yang akan ibu berikan hari ini.”
Coba dengarkan ibu..! Setiap makhluk, khususnya manusia, di dunia ini membutuhkan belajar dan usaha keras untuk mencapai keberhasilan. Ada sebuah contoh. Fulan adalah seorang anak pejabat yang sangat kaya. Dia dibelikan beberapa ijazah sarjana dan Sertifikat Kursus Komputer, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jerman oleh orang tuanya. Semua ijazah sarjana dan sertifikat kursus dengan nilai yang sangat memuaskan dia miliki meskipun dia tidak pernah kuliah dan mengikuti kursus apapun. Menurut kalian, apakah si Fulan ini akan bisa melalui setiap tantangan dalam pekerjaannya dengan baik? Apa yang akan ditemui Fulan ketika terjun ke dunia kerja...? Beberapa jawaban mengalir dari mulut mereka,” Tidak, karena si Fulan sebenarnya belum pernah belajar untuk hidup.Dia akan kesulitan ketika bekerja” Ada lagi yang menjawab, “Tidak akan, karena setiap tantangan pekerjaan membutuhkan keterampilan dan keahlian yang baik.” Dan beberapa murid menjawab dengan jawaban yang senada.
Aku melanjutkan penjelasanku, “Ibu punya sebuah cerita, dengarkan baik-baik. Ada seorang penyayang binatang bernama Ronald. Suatu hari Ronald mengamati ulat-ulat peliharaannya yang sedang bermetamorfosis dari sebuah kepompong menjadi kupu-kupu. Ronald tertarik dengan salah satu ulat yang dengan semangat tinggi berusaha lepas dari kepompongnya. “ aku bercerita dengan penuh perasaan dan kadang-kadang aku peragakan agar lebih menjiwai cerita.
Setelah beberapa saat aku melanjutkan, “Si Ulat seperti tak kenal lelah menggeliatkan seluruh badannya dengan sekuat tenaga. Beberapa bagian tubuhnya sudah berhasil lepas dari kepompongnya. Tapi kedua sayapnya masih terperangkap di dalam balutan kepompong. Dia terus berusaha menarik kedua sayapnya. Ketika tubuhnya semakin melemah, ulat tersebutpun berhenti bergerak.
“Kau pasti sangat lelah ulatku yang manis. Jangan khawatir, aku akan menolongmu.” kata Ronald dalam hati. Dengan lembut Ronald mengambil kepompong tersebut, merobek sebagian kulit kepompong agar sayap yang masih lemah itu dapat tergerai bebas.
“Berhasil...!! kedua sayapnya telah terlepas bebas..,tapi..mengapa sayapnya tidak tergerai...,masih terlihat basah dan tetap lemah..? Mungkin dia masih perlu waktu.”pikir Ronald.
Ronald dengan setia menunggu proses kupu-kupu mungil itu untuk terbang tapi si kupu-kupu tetap tidak terbang. Sayapnya bergerak-gerak pelan..tapi sepertinya tidak kuat untuk digunakan terbang. Ronald meneteskan air matanya. Dia sangat menyesal telah membantu proses metamorfosis kupu-kupu kesayangannya. Dia bukan membantu..tapi malah membuat kupu-kupunya menjadi kupu-kupu yang lemah. Sesungguhnya proses metamorfosa yang sulit dan melelahkan itu adalah sebuah proses yang diciptakan Allah untuk melatih diri agar bagian-bagian tubuh kupu-kupu kuat. Dengan otot yang terlatih kuat, kupu-kupu akan bisa menjalani kehidupannya dengan tangguh. “Dia akan kuat mengepakkan sayapnya jutaan kali, berkeliling mencari madu hingga akhir hayatnya.” ungkapku mengakhiri cerita.
Aku melirik jam di tanganku. Sudah 15 menit aku bercerita.
“Nah, dari beberapa cerita yang telah ibu ceritakan tadi...dapat kita simpulkan bahwa tidak ada kesuksesan tanpa sebuah proses yang kita lakukan dengan kerja keras. Semakin kuat kita mengasah pisau yang tumpul maka semakin tajam pisau yang kita dapatkan. Semakin giat kalian mengerjakan tugas-tugas yang ibu berikan, semakin terampil kalian dalam mengerjakan soal. Kalian mengerti..?
“Iya, Bu..! “jawab mereka penuh semangat.
Aku memandang wajah-wajah mereka dengan penuh kasih.
“Baiklah, sekarang kita akan lanjutkan pelajaran kita. Kemarin kalian telah belajar How to use rice cooker. Sekarang, ibu memberi kalian uang Rp. 2000,- dan waktu 15 menit untuk membeli jus jambu di Mang Yanto. Silahkan menanyakan, mengamati dan mencatat prosesnya dan melaporkannya kepada Ibu dalam bentuk Procedure Text dengan judul How To make Guava Juice atau How to use a Blender. Bagi Siswa yang paling bagus dan paling cepat mengerjakan laporannya, dia berhak mendapatkan Guava Juice yang telah dibeli.” Ungkapku dalam Bahasa Inggris.

Kutatap murid-murid yang berlarian menuju warung Mang Yanto. Dengan tersenyum kudampingi mereka mengumpulkan data untuk laporannya. Sambil mengambil foto kegiatan mereka, aku berkata dalam hati, “Nak, Jadilah kau kupu-kupu yang bisa terbang tinggi....!”

Senin, 08 November 2010

ERUPSI MERAPI : BUKTI CINTA ATAUKAH MURKA ALLAH...?


ERUPSI MERAPI : BUKTI CINTA ATAUKAH MURKA ALLAH...?
(oleh: Nita Helida, S.Pd.)

Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 memang sangat dahsyat. Disinyalir bahwa ini adalah letusan terbesar sejak 140 tahun terakhir. Berita tentang korban meninggal dan luka-luka akibat awan panas “wedhus gembel” sangat memilukan hati siapapun yang mendengar dan menontonnya. Belum lagi cerita tentang para pengungsi yang kehilangan keluarga, harta, lahan pekerjaan dan sebagainya.
Komentar tentang bencana Merapipun datang dari berbagai pihak. Mulai komentar tentang meninggalnya Mbah Marijan, sang juru kunci Merapi, sampai apa maksud Allah dengan kejadian ini.
Bagi kaum beriman, sejumlah musibah itu akan dibaca sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Dengan berbagai tanda itu kita diminta merenung, bahwa jika ayat-ayat-Nya yang tertulis sudah mulai kita lupakan maka Allah (akan) menghamparkan ayat-ayat tak tertulis-Nya (Kauniah). Ada ayat gempa, ayat tsunami, ayat gunung meletus, ayat banjir bandang, ayat lumpur panas, dan sebagainya. Bisakah kita menangkap pesan di balik berbagai ayat Allah itu? Sebagian orang menganggap bencana ini adalah adzab, beberapa yang lain menganggapnya sebagai teguran, ujian, dan sebagian yang lain memberikan beberapa komentar yang berbeda-beda. Bahkan lirik lagu Ebiet G.Adepun, “mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita...”, dipakai untuk menyimpulkan maksud Allah atas bencana ini.
Saya teringat tahun 1970an, ketika nenek saya bercerita tentang gunung meletus. Beliau berkata bahwa meletusnya masing-masing gunung itu sudah ada rumus waktunya. Gunung Kelud yang ada di Jawa Timur, meletus sekian windu sekali (saya lupa tepatnya), demikian juga gunung-gunung yang lain. Rumus waktu itu biasanya tepat, hanya bergeser tanggal dan bulannya. Saat ini saya jadi berpikir, bahwa selain sebagai teguran, ujian, atau hal yang lainnya, sebenarnya meletusnya sebuah gunung itu adalah sebuah proses alam biasa yang sudah ada rumus waktunya, yang telah digariskan oleh Allah.
Komentar lain yang menurut saya menarik adalah komentar yang datangnya dari pakar Geologi (saya tidak mencatat namanya) yang diwawancari oleh TV one pagi ini ( 08 Nopember 2010). Beliau berkata bahwa semburan abu vulkanik yang sangat kuat, yang membumbung ke atas hingga 10 km dari puncak merapi, akan mencapai stratosfer. Apa efeknya? Ringkasnya, ternyata abu vulkanik yang mencapai stratosfer tersebut, setelah melalui proses tertentu bisa “menambal” lubang ozon ! Apa manfaatnya untuk bumi dan segala kehidupan di dalamnya? Suhu bumi akan menurun beberapa derajat . Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa suhu bumi semakin meningkat. Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa: Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Hal ini akibat dari global warming. Global warming yang kita bingung menanggulanginya, ternyata terbantu dengan adanya letusan Merapi ini..! Subhanallah. Betapa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Ternyata, di balik bencana yang terlihat sangat mengerikan, cinta Allah kepada makhlukNya demikian besar. Dalam Alquran dijelaskan bahwa tidak ada satupun yang diciptakan oleh-Nya sebagai sesuatu yang sia-sia. Dengan kata lain, bencana alam, meskipun merupakan gejala alam biasa, namun mengandung banyak pesan yang beragam, sesuai dengan kapasitas pembaca ayat –ayat KauniahNya.
Wallahu A’lam bishawab.

Sabtu, 09 Oktober 2010

SETAN LEBIH SUKA PADA PELAKU BID’AH DARI PADA PELAKU MA’SIYAT.


SETAN LEBIH SUKA PADA PELAKU BID’AH DARI PADA PELAKU MA’SIYAT.
(oleh: Drs. H. Munib)


Penulis pernah membaca dan sependapat bahwa memang setan lebih suka pada pelaku bid’ah dari pada pelaku ma’siyat ; karena Nabi Muhammad mengajarkan bahwa perbuatan ma’siyat dan bid’ah itu sama-sama tersesat. Setan selalu berusaha menyesatkan.

Pelaku bid’ah menganggap perbuatannya itu baik, berpahala, dia berusaha mengajarkan secara terang-terangan dan melestarikan sehingga semakin banyak pengikut yang tersesat. (setan suka )

Pelaku ma’siyat mengetahui bahwa perbuatannya itu merupakan pelanggaran, biasanya dilakukan secara bersembunyi, tidak mengajarkan kepada keluarganya, tidak berusaha mengembangkan atau melestarikan. (Setan kurang suka) .

Bid’ah biasanya berdasar Hadis lemah atau palsu sengaja dibuat oleh musuh-musuh Islam.
Dampak bid’ah amat buruk terhadap agama. Agama rusak karena bid’ah itu dialami oleh agama-agama besar yang tidak memiliki kitab suci yang asli dan tidak ada ajaran yang melarang bid’ah sehingga tidak punya dasar sebagai pedoman untuk meluruskan penyimpangan. Padahal semua pengamalan ibadahnya sekarang adalah hasil karangan pemuka-pemukanya, bukan ajaran nabinya.

Ritual ibadah itu menyangkut masalah gaib yang tidak terjangkau indera dan akal manusia jadi seharusnya dari nabinya yang menerima wahyu dan punya mu’jizat. Nyanyian, pujian, wiridan dan tingkah laku ibadahnya yang ada sekarang tidak lebih hanya sebagai hasil seni budaya karya manusia biasa. Setan memang selalu berusaha menyesatkan manusia supaya berbuat bid’ah dan syirik yang tidak diajarkan oleh para nabinya. (Baca:Agama rusak karena bid’ah)

TANGGUNG JAWAB AGAMA


TANGGUNG JAWAB AGAMA
(oleh: Drs. H. Munib)

Orang awam,siswa, memperhatikan, merenung kemudian bertanya: Bagaimana tanggung jawab Islam sebagai agama yang dipeluk mayoritas rakyat Indonesia, dikenal sebagai muslim terbesar di dunia.
TANYA: Apa benar Islam itu rahmat bagi seluruh alam ? Apa benar Islam itu mendorong atau menghambat kemajuan ? Karena nyatanya:
Indonesia wilayahnya luas, tanahnya subur, tetapi tidak makmur, banyak pengangguran, kemiskinan, kejahatan, premanisme, tawuran, bentrok antar warga, antar siswa, antar mahasiswa, banyak demo ketidakadilan, korupsi di semua sektor semua tingkat, pemuka agama banyak beda faham, kehilangan wibawa. Siapa yang benar, dimana salahnya ?
JAWAB: Nabi Muhammad : “Agama Yahudi pecah 71 golongan satu yang benar , Nasarani pecah 72 golongan, satu yang benar, Islam pecah 73 golongan, satu yang benar. Nabi ditanya siapa yang satu itu? Nabi menjawab: “Yaitu yang berdasar AlQur’an, Sunnahku, sahabat-sahabatku.” Yang satu ini sekarang terkenal disebut: “Ahli Sunnah wal Jama’ah” Semua golongan yang ada sekarang mengaku bahwa merekalah sebagai “Ahli Sunnah wal Jama’ah”. Adapun nyatanya ? Mereka tidak sadar atau tidak tahu bahwa mereka nyatanya bukan ahli Sunnah, tetapi ahli Bid’ah ! tidak tahu bahwa Sunnah/Hadis yang mereka gunakan itu adalah Hadis lemah atau palsu.

Nabi Muhammad mengingatkan bahwa dalam hal agama harus berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah dan melarang mengada ada ajaran atau aturan baru (itu yang disebut Bid’ah, dan setiap bid’ah dinyatakan tersesat). Umat Islam diperintah / dianjurkan mengikuti Sunnah, dilarang / dicela mengikuti Bid’ah. Adapun Bid’ah yang dilarang itu dalam hal ibadah dan akidah yang menyangkut masalah gaib (yang tidak bisa dijangkau oleh indera dan akal manusia). Ada alam gaib, ada alam syahadah (yang nyata,bisa dijangkau oleh panca indera dan akal manusia). Masalah dunia (alam syahadah) Nabi bersabda: “Kamu lebih mengetahui tentang urusan duniamu”. Jadi, tidak ada larangan berbuat bid’ah dalam urusan dunia (sarana, prasarana, peralatan, tehnologi, pakaian, metode pengajaran, makanan dsb) asal tidak melanggar larangan.
Dalam ilmu agama ada prisip hukum bahwa:

“Semua masalah muamalah/ibadah umum, pada dasarnya “hukumnya boleh” kecuali yang dilarang.
“Semua masalah akidah/ibadah khusus, pada dasarnya “hukumnya dilarang” kecuali yang diperintah.
AGAMA RUSAK KARENA BID’AH
Agama-agama besar rusak karena bid’ah-bid’ah yang dibuat oleh para pemuka-pemuka agama, ritual-rituanya diubah dan ditambah menurut selera sehingga ajaran Nabinya bergeser, berubah bahkan ajaran dasarnyapun diubah , Nabinya dipuja berlebihan sehingga setaraf Tuhan. Diciptakan nyanyian-nyanyian pujian sehingga dianggap sebagai ritual yang lebih baik dari pada sujud yang dulu dilakukan oleh nabinya (Ibrahim, Musa, Isa/Yesus dll begitulah kita baca dalam Bybel ). Sekarang kita melihat umat agama itu tidak melaksanakan sujud kepada Tuhannya. Karena agama –agama sebelum Islam itu tidak memiliki Kitab suci yang asli dan tidak ada ajaran yang melarang berbuat bid’ah, maka kerusakan agama-agama itu sudah tidak dapat tertolong,

Kita melihat umat Islam Indonesia banyak mengikuti kiai, ustad yang mengajarkan amalan-amalan bid’ah. Untungnya Islam memiliki kitab suci Al Qur’an yang tetap asli dan Sunnah/Hadis sahih sebagai pegangan dasar untuk mengoreksi dan menunjukkan siapa-siapa yang mengikuti amalan sunnah dan siapa-siapa yang mengikuti amalan bid’ah.

Kita melihat mayoraits umat Islam Indonesia termasuk para pejabat kalangan atas mengamalkan ajaran bid’ah-bid’ah yang tidak sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Sunnah/Hadis sahih, sehingga bisa dikatakan imannya kacau, campur aduk dengan tahayul, khurafat, syirik. Keadaan itu bisa diketahui oleh orang yang faham ajaran Islam; jadi kalau Islam dimintai pertanggungan jawab adanya kebobrokan Indonesia sebagai muslim terbesar di dunia, maka perlu dibedakan antara “Islam” dengan “umat Islam"
Nabi Muhammad menjamin bahwa umat Islam akan baik di dunia dan akhirat dan tidak tersesat apabila berpegang teguh Al Qur’an dan Sunnah/Hadis sahih.
Kalau umat Islam pengamalan agamanya tidak sesuai bahkan bertentangan dengan Islam, maka siapakah yang salah ? Siapakah penyebab kebobrokan Indonesia ? Kita perlu beragama berdasarkan “Ilmu”. Kalau pada mulanya beragama karena keturunan, jabatan, penikahan, pengobatan, balas jasa, penampsilan dsb, maka harus ditingkatkan beragama berdasarkan ilmu. Tanpa ilmu agama akan kacau.

Jumat, 11 Juni 2010

LANDASAN TEORI EKONOMI DAN MANAJEMEN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

Setiap teknologi dibangun atas dasar suatu teori tertentu. Demikian pula teknologi pendidikan, dibangun atas dasar prinsip-prinsip yang ditarik dari berbagai teori, diantaranya adalah teori ekonomi dan manajemen. Ilmu ekonomi menyuguhkan prinsip-prinsip efisiensi dan efektifitas. Mengingat jumlah sasaran yang harus dilayani cukup besar, kesempatanya sangat terbatas, dan sumber belajar tradisional makin terbatas pula, maka perlu dikembangkan alternatif layanan pendidikan yang paling efektif dan efisien dengan menerapkan teknologi pendidikan. OIeh karena itu teknologi pendidikan berupaya untuk merancang, mengembangkan dan memanfaatkan aneka sumber belajar sehingga dapat memudahkan atau memfasilitasi seseorang untuk belajar. Kontribusi atau dukungan teori ekonomi dalam teknologi pendidikan yaitu menekankan pada proses untuk memperoleh nilai tambah, yaitu belajar akan lebih berkualitas, lebih produktif, lebih efisien, lebih efektif, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat, dan sebagainya.
Manajemen berperan dalam penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan merata dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Manajemen pendidikan adalah suatu proses yang merupakan daur (siklus) penyelenggaraan pendidikan dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaksanaan, pemantauan, dan penilaian tentang usaha sekolah untuk mencapai tujuannya. Hasbullah, 2006: 109) Adapun ruang lingkup fungsi manajemen pendidikan yaitu; manajemen peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan, keuangan, sarana dan prasarana, humas, dan manajemen layanan khusus.
Berdasarkan ulasan di atas, maka penulis mengangkat masalah: bagaimana kontribusi teori ekonomi dalam teknologi pendidikan?; bagaimana kontribusi teori manajemen dalam teknologi pendidikan? Dan bagaimana aplikasi/penerapan teori ekonomi dan manajemen dalam pemecahan masalah pembelajaran?

Kata kunci: kontribusi, teori ekonomi, teori manajemen, aplikasi/penerapan.






BAB II
PEMBAHASAN

2.1 TEORI EKONOMI
A. Pengertian ekonomi
Ekonomi adalah sistem aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Kata "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja. Ilmu yang mempelajari ekonomi disebut sebagai ilmu ekonomi.

Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan.
B. Teori Ekonomi
Teori ekonomi dibedakan menjadi teori ekonomi mikro dan makro. Teori ekonomi mikro mempersoalkan praktek ekonomi sehari-hari seperti permintaan, penawaran, kegunaan, dan sebagainya. Contoh penerapan teori mikro dalam pendidikan , misalnya:
a. Dalam merancang sebuah media pembelajaran, maka diusahakan dengan biaya seminimal mungkin tetapi dapat memberikan fungsi pembelajaran semaksimal mungkin (memperoleh hasil sebesar-besarnya dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya)
b. Sekolah yang mempunyai kualitas yang tinggi (baik) maka pendaftar ke sekolah tersebut akan naik (banyak).
Sedangkan teori ekonomi makro meliputi teori klasik, produktivitas, dan modern. Perkembangan perekonomian makro berpengaruh sekali dalam bidang pendidikan, seperti sekarang ini banyak sekali orang kaya yang mau menjadi bapak angkat bagi anak-anak yang tidak mampu untuk menempuh pendidikan kejenjang yang lebih baik. Perkembangan lain yang sangat mengembirakan adalah terlaksananya sistem ganda dalam dunia pendidikan, hal ini berlangsung baik di lembaga pendidikan yaitu kerjasama sekolah dengan pihak usahawan dalam proses belajar mengajar. Kemajuan pembangunan perekonomian secara makro dapat juga berdampak timbulnya sekolah-sekolah unggul yang memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap karena di biayai dan dipunyai oleh kebanyakan orang - orang kaya. Walaupun kebijakan dan program sekolah ini tidak sama dengan yang lain, diharapkan agar tidak terdapat pilih-kasih dalam menerima para siswa artinya calon siswa dari manapun asalnya hendaklah dapat diberikan kesempatan dalam menempuh pendidikan di sekolah unggulan tersebut ,dan yang paling penting juga adalah dapat menghasilkan lulusan yang bermutu serta tidak menyimpang dengan tujuan pendidikan nasional negara kita.

2.2 KONTRIBUSI TEORI EKONOMI DALAM TEKNOLOGI PENDIKAN
Setiap teknologi dibangun atas dasar suatu teori tertentu. Demikian pula teknologi pendidikan, dibangun atas dasar prinsip-prinsip yang ditarik dari teori ekonomi. Ilmu ekonomi menyuguhkan prinsip-prinsip efisiensi dan efektifitas. Mengingat jumlah sasaran yang harus dilayani cukup besar, kesempatanya sangat terbatas, dan sumber belajar tradisional makin terbatas pula, maka perlu dikembangkan alternatif layanan pendidikan yang paling efektif dan efisien dengan menerapkan teknologi pembelajan. Oleh karena itu teknologi pendidikan berupaya untuk merancang, mengembangkan dan memanfaatkan aneka sumber belajar sehingga dapat memudahkan atau memfasilitasi seseorang untuk belajar. Kontribusi atau dukungan teori ekonomi dalam teknologi pendidikan yaitu menekankan pada proses untuk memperoleh nilai tambah, yaitu belajar akan lebih berkualitas, lebih produktif, lebih efisien, lebih efektif, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat dan sebagainya.
Miarso mencontohkan (2004:598) biaya penataran guru yang diselenggarakan secara tradisional perlu dipertanyakan aspek ekonominya. Pada saat ini sudah banyak bimbingan guru yang dilaksanakan secara on line, misalnya pemerintah pada tahun 2007 mengadakan bimbingan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) secara on line. Guru juga diharapkan tergabung dalam Think Quest untuk sharing segala macam hal dan kesulitan dalam mengajar. Dana yang dikeluarkan tentu saja lebih hemat dibandingkan jika harus mendatangkan pembimbing secara langsung. Bila kita kaji, sebenarnya berbagai bentuk penerapan Teknologi Pembelajaran secara menyeluruh sebagai garapan Teknologi Pendidikan, tidak lepas dari usaha untuk mengefisiensikan biaya (penerapan teori ekonomi), misalnya:
a. Proyek percontohan sistem PAMONG
b. Program KEJAR paket A dan B
c. Pusat kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
d. SMP Terbuka
e. Universitas Terbuka, dan lain lain.

2.3 TEORI MANAJEMEN
A. Pengertian Manajemen
Dari segi bahasa, kata “manajemen” berasal dari bahasa latin yaitu dari asal kata “manus” yang berarti tangan dan “agere” yang berarti melakukan. Kata- kata tersebut digabung menjadi kata kerja “managere” yang artinya menangani. Dalam bahasa Inggris “managere” dalam bentuk kata kerja yakni “to manage” dan kata benda management”, dan “manager” untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen. Sementara itu, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “manajemen” atau “pengelolaaan” (Husaini Usman, 2006: 3 )
Menurut Chuck Williams (2001: 8), manajemen adalah bekerja melalui orang lain untuk menyelesaikan tugas-tugas yang membantu pencapaian sasaran organisasi seefisien mungkin.
Sementara itu, Nanang Fattah (2001: 1) mendefinisikan manajemen sebagai ilmu, kiat dan profesi. Manajemen dikatakan sebagai ilmu oleh Luther Gulick karena manajemen dipandang sebagai suatu biang pengetahuan yang sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Dikatakan sebagai kita oleh Follet karena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Sedangkan dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer dan para profesional dituntun oleh suatu kode etik.
Berdasarkan paparan di atas, dapat penulis simpulkan bahwa manajemen merupakan suatu ilmu dan cara menggerakkan orang-orang untuk menjalin kerja sama dalam menjalankan tugas masing-masing pada suatu organisasi, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai seefektif dan seefisien mungkin. Dan orang yang memiliki ilmu dan keterampilan ini disebut sebagai manajer.

B. Falsafah Manajemen
Manajemen sebagai pengetahuan juga disusun dengan ciri-ciri spesifik mengenai apa (ontology), bagaimana (epistemology), dan untuk apa (aksiologi), ketiganya berkaitan satu sama lain (sistemik). Adapun falsafah manajemen pada hakikatnya menyediakan seperangkat pengetahuan (a body of related knowledge) untuk berfikir efektif dalam memecahkan masalah-masalah manajemen. (Nanang Fattah, 2001: 11). Dasar falsafah manajemen dibagi dalam tiga jenis hakikat yaitu hakikat tujuan manajemen, hakikat manusia, dan hakikat kerja. Menurut Shrode dan Voich (1974) tujuan manajemen adalah produktivitas dan kepuasan. Untuk meningkatkan produktivitas tersebut, maka perlu diperhatikan perilaku manusia, sosial dan segala aspeknya.
C. Teori dan Prinsip- Prinsip Manajemen.
Menurut Nanang Fattah (2001: 11) teori manajemen mempunyai peran (role) atau membantu menjelaskan perilaku organisasi yang berkaitan dengan motivasi, produktivitas, dan kepuasan (satisfaction). Karakteristik teori manajemen secara garis besar dapat dinyatakan: a) mengacu pada pengalaman empirik, b) adanya keterkaitan antara satu teori dengan dengan teori yang lain, c) mengakui kemungkinan adanya penolakan. Dalam perkembangan teori manajemen, dikenal tiga teori manajemen, yaitu; teori klasik, tori neo klasik, dan teori modern. (Nanang Fattah, 2001: 22-32).
a. Teori klasik, berasumsi bahwa para pekerja atau manusia itu sifatnya rasional, berfikir logik, dan kerja merupakan suatu yang diharapkan. Beberapa pelopor teori klasik antara lain; Frederik W Taylor (1956-1915) dengan teori manajemen ilmiah (scientific management), Henri Fayol (1916) dengan teori 5 pedoman manajemen, Gulick dan Urwick (1930) dengan teori akronim POSDCORB, dan Max Weber (1947) dengan teori birokrasinya.
b. Teori neo klasik, berasumsi bahwa manusia itu makhluk sosial dengan mengaktualisasikan dirinya. Pelopor teori neo klasik ini, antara lain; Elton Mayo dengan studi hubungan antar manusia (studi Hawthorne), Douglas McGregor, menyatakan bahwa manajemen akan mendapatkan manfaat besar bila ia menaruh perhatian pada kebutuhan sosial dan aktualisasi diri karyawan, Vromm (Filley, et al., 1976) dengan teori harapan (ekspektasi), McClelland dengan teori prestasinya, dan Porte dan Lawler (1968) dengan teori yang dibangun atas dasar teori ekspektasi.
c. Teori modern, pendekatan modern berdasarkan hal-hal yang sifatnya situasional, artinya orang menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi dan mengambil keputusan sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan. Asumsinya bahwa orang itu berlainan dan berubah baik kebutuhannya, reaksinya, tindakannya yang semuanya bergantung pada lingkungan. Teori modern dengan pandangan sistem memandang organisasi itu terbuka (open system) dan kompleks. Tiga unsur pokok, yaitu analisis sistem, rancangan sistem, dan manajemen memberi petunjuk dalam mengoperasionalkan pendekatan sistem.
Menurut Nanang Fattah (2001: 12) prinsip-prinsip manajemen penting dalam menentukan cara/ metode kerja, pemilihan pekerja dan pengembangan keahliannya, pemilihan prosedur kerja, menentukan batas-batas tugas, mempersiapkan dan membuat spesifikasi tugas, melakukan pendidikan dan latihan, dan menentukan sistem dan besarnya imbalan. Semuanya dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas, esiensi, dan produktivitas kerja.
Adapun prinsip-prinsip manajemen tersebut banyak dikemukakan oleh para ahli, namun pada hakikatnya memiliki kesamaan. Fayol mengemukakan sejumlah prinsip, yaitu; pembagian kerja, kejelasan dalam wewenang dan tanggung jawab, disiplin, kesatuan komando, kesatuan arah, lebih memprioritaskan kepentingan umum/ organisasi dari pada kepentingan pribadi, pemberian kontra prestasi, sentralisasi, rantai skalar, tertib, pemerataan, stabilitas dalam menjabat, inisiatif, dan semangat kelompok. Semua prinsip di atas dijadikan patokan dalam praktik manajerial yang memiliki orientasi tertentu. Berdasarkan orientasinya, dikenal 4 prinsip manajemen yaitu; manajemen berdasarkan sasaran, manajemen berdasarkan orang, manajemen berdasarkan struktur, dan manajemen berdasarkan informasi.

D. Peran dan Fungsi Manajemen dalam Pendidikan
Penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan merata, akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Untuk itu, perlu adanya pengelolaan sistem pendidikan yang profesional. Disinilah peran manajemen dalam pelaksanaan sistem pendidikan.
Manajemen pendidikan merupakan suatu proses yang merupakan daur (siklus) penyelenggaraan pendidikan dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaksanaan, pemantauan, dan penilaian tentang usaha sekolah untuk mencapai tujuannya. (Hasbullah, 2006: 109)
Husaini Usman (2006: 10) mengemukakan bahwa substansi garapan manajemen pendidikan sebagai proses disebut juga sebagai fungsi manajemen, adalah; a) perencanaan; b) pengorganisasian; c) pengarahan (motivasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, komunikasi, koordinasi, dan negosiasi, serta pengembangan organisasi); d) pengendalian meliputi pemantauan (monitoring), penilaian dan pelaporan.
Adapun ruang lingkup fungsi manajemen pendidikan yaitu; manajemen peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan, keuangan, sarana dan prasarana, humas, dan manajemen layanan khusus.
Jadi pada hakikatnya, peran manajemen dalam pendidikan adalah sebagai pengelola sistem pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Sedangkan fungsi manajemen yang juga dipandang sebagai proses mencakup proses/fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian (pengawasan dan evaluasi) terhadap pelaksanaan sistem pendidikan di lembaga pendidikan (sekolah).

2.4 KONTRIBUSI TEORI MANAJEMEN DALAM TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Dalam kajian teknologi pendidikan, teori manajemen mengalami proses perekembangan. Pada awalnya manajemen dipandang penting untuk mengawasi proses dan hasil pembelajaran di lingkungan sekolah. Pada tahun 1972, manajemen dipandang sebagai supervisi personel dan pengelolaan organisasi. Kemudian pada tahun 1977 manajemen dipandang sebagai proses pengembangan Instruksional dan sistem pembelajaran berbasis teknologi (AECT, 1977). Dan pada perkembangan tahun 1994, Seels dan Richey (1994) mendefinisikan “Management meanth planning, coordinating, organizing, and supervising resources, information, and delivery systems in the context of managing instructional design (ID) projects.” (Alan Januszewski dan Michael Molenda, 2008: 176). Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen dalam teknologi pendidikan adalah suatu proses pengelolaan desain instruksional (desain pembelajaran) yang mencakup proses perencanaan, koordinasi, organisasi dan supervisi sumber, informasi, dan sistem pembelajaran.
Adapun kontribusi teori manajemen dalam teknologi pendidikan dapat dilihat pada program manajemen dalam teknologi pendidikan antara lain; manajemen proyek, manajemen sumber, manajemen personal, dan manajemen program. (Alan Januszewski dan Michael Molenda, 2008: 183). Adapun fungsi manajemen proyek dalam pendidikan adalah proses perencanaan, monitoring, dan pengendalian proyek desain dan pengembangan desain instruksional. Sedangkan fungsi manajemen sumber adalah perencanaan, pemantauan, dan pengendalian sistem pendukung dan pelayanan sumber (sumber mencakup personil keuangan, bahan baku, waktu, fasilitas, dan sumber pembelajaran). Fungsi manajemen personal adalah menyiapkan orang-orang yang ahli dalam pengelolaan berbagai sumber belajar. Sedangkan manajemen program berfungsi sebagai supervisi dan kontrol/pengawasan terhadap seluruh aktivitas manajemen sebelumnya, agar proses manajemen pengelolaan desain instruksional tersebut dapat berjalan efektif dan efisien.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kontribusi teori manajemen dalam teknologi pendidikan adalah sebagai pengelola teknologi pendidikan, adapun proses manajemen tersebut berperan dalam konteks manajemen desain instruksional. Komponen desain instruksional yang menjadi objek manajemen adalah manajemen proyek desain, manajemen sumber/ media pembelajaran (mencakup teknologi cetak, teknologi audio visual, teknologi berbasis komputer, dan teknologi terpadu), dan manajemen sumber belajar yang mencakup pesan, orang, bahan, peralatan (fasilitas), teknik, dan latar (setting) yang mencakup lingkungan fisik dan nonfisik. Dan keseluruhan proses teknologi manajemen tersebut pada dasarnya memberikan kontribusi dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran, agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.


2.5 APLIKASI TEORI EKONOMI DAN MANAJEMEN DALAM PEMECAHAN MASALAH PEMBELAJARAN
Pembelajaran merupakan proses interaksi pendidik dan pembelajar, di dalam interaksi tersebut akan terjadi proses transformasi pengetahuan, nilai, dan budaya. Namun proses pembelajaran tersebut tidak selalu berjalan sesuai harapan, tetapi akan timbul berbagai masalah, antara lain, kondisi ekonomi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Masalah ekonomi ini harus menjadi landasan untuk terlaksananya proses pembelajaran. Menurut Kotler (1985), fungsi ekonomi bertalian erat dengan marketing (analisis, perencanaan, implementasi, dan pengawasan yang memberikan perubahan nilai, dengan target pasar) sebagai tujuan lembaga pendidikan yang mencakup :
a. Mendesain penawaran.
b. Menentukan kebutuhan atau keinginan pasar dalam hal ini peserta didik sesuai dengan kebijakan link and match, juga
c. Menentukan harga efektif dengan mengadakan komunikasi, distribusi, komunikasi, dan layanan
Dalam hal ini keuntungan marketing adalah:
a. Meningkatnya misi pendidikan secara sukses dan terselenggara dengan baik, sebab diisi dengan program yang baik,
b. Meningkatkan daya tarik terhadap masyarakat, peserta didik, dana donatur dan
c. Meningkatkan kepuasan masyarakat, meningkatkan keefesiensian dan kegiatan pemasaran.
Akan tetapi dalam marketing juga terdapat kelemahan yaitu lembaga pendidikan selalu dijadikan usaha dagang, dikomersilkan dalam mendapatkan keuntungan, idealisme pendidikan cenderung diabaikan dalam dunia pendidikan di negara kita.
Pendidik (guru) adalah seorang manajer dalam kelas, pendidiklah yang bertanggung jawab dalam melakukan proses pengelolaan baik pra pembelajaran, proses pembelajaran di dalam kelas hingga pasca pembelajaran, maka pendidiklah yang berusaha mencari solusi dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang timbul. Penerapan manajemen Instruksional (RPP) merupakan salah satu cara seorang pendidik mampu menemukan solusi terhadap masalah yang dihadapi. Penerapan manajemen dapat dilakukan dengan mengelola desain Rencana Pembelajaran yang efektif, yaitu dengan merumuskan tujuan yang yang berpusat pada pengembangan kognitif, afektif dan psikomotorik pembelajar, mengembangkan dan memanfaatkan media pembelajaran yang bervariatif dan efektif, mengembangkan strategi pembelajaran, dan memanfaatkan aneka sumber belajar, serta menyusun rancangan evaluasi yang efektif. Disamping itu, manajemen juga dapat diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melakukan pengelolaan kelas, misalnya pengaturan tempat duduk, ventilasi, pengaturan penyimpanan barang-barang, menciptakan suasana sosio-emosional, dan menciptakan kondisi organisasional.
Dalam pengelolaan pembelajaran, teknologi manajemen dimanfaatkan dalam mengembangkan, merancang, dan melaksanakan strategi pembelajaran dengan pola sistem belajar mandiri dengan memanfaatkan belajar dengan bantuan komputer, belajar jarak jauh (distance learning), belajar melalui modul, belajar terbuka (open learning), dan pola-pola pembelajaran lainnya.






















BAB III
PENUTUP

Ekonomi pada hakekatnya adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Dalam teknologi pendidikan prinsip ekonomi tidak bisa dipisahkan karena menunjang keberadaan dan perkembangan teknologi pendidikan itu sendiri. Teori ekonomi bisa dimanfaatkan untuk mengefisiensikan biaya yang diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran.Hal ini sebenarnya sudah menjadi garapan disiplin teknologi pendidikan. Penerapan teori ekonomi dalam teknologi pendidikan dapat dilihat manfaatnya antara lain: Meningkat misi pendidikan secara sukses dan terselenggara dengan baik, sebab diisi dengan program yang baik, meningkatkan daya tarik terhadap masyarakat, peserta didik, dana donatur dan meningkatkan kepuasan masyarakat, meningkatkan keefesiensian dan kegiatan pemasaran pendidikan.
Sedangkan manajemen merupakan proses pelaksanaan suatu sistem, agar tercapai tujuan yang diharapkan. Dalam sistem pendidikan, teori manajemen dimanfaatkan sebagai proses pengelolaan sistem pendidikan yang mencakup manajemen personel, peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan, humas, sarana dan prasarana, dan layanan khusus.
Dalam teknologi pendidikan, teori manajemen memberikan kontribusi dalam pengelolaan desain instruksional, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi terhadap pelaksanaan Instruksional/pembelajaran. Proses manajemen tersebut bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran guna mewujudkan tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Penerapan teknologi manajemen dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dapat dilihat dengan terciptanya seorang pendidik yang memiliki kemampuan manajerial dalam mengelola desain Instruksional, melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan metode dan media yang variatif (berbasis teknologi), melakukan berbagai strategi dan pola pembelajaran yang merupakan hasil pengembangan teknologi pendidikan, dan pemanfaatan aneka sumber belajar, sehingga masalah-masalah pembelajaran dapat diatasi dan pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien.

Rabu, 31 Maret 2010

KAJIAN EPISTEMOLOGI DAN ETIKA PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN

Dimensi filsafat ilmu yang sering menjadi kajian secara umum yaitu meliputi tiga hal: dimensi ontologi, dimensi epistemologi, dan dimensi aksiologi. Ketiganya merupakan cakupan yang meliputi dari keseluruhan–keseluruhan pemikiran kefilsafatan. Dalam makalah ini dipaparkan tentang 2 cabang dalam filsafat, yaitu epistemologi dan aksiologi yang berhubungan dengan pendidikan. Epistemologi Pendidikan; cabang ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemologi yang dihadapi semua guru: muatan apa yang benar yang akan kita ajarkan? Alat atau media apa yang paling tepat untuk membawa muatan ini kepada peserta didik? Bagaimana prosedur pembelajarannya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar peserta didik mendapatkan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya?

Yang kedua cabang filsafat yang disebut aksiologi. Landasan ini akan menjawab pertanyaan tentang: nilai-nilai apakah yang guru kenalkan pada peserta didik untuk diadopsi? Nilai-nilai apakah yang mengangkat umat manusia pada ekspresi kemanusiaan yang tertinggi? Nilai-nilai apakah yang dipegang oleh orang yang benar-benar terdidik? Dengan mengetahui jawaban-jawaban dari pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbagai pengetahuan yang ada seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaannya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Ilmu dikacaukan dengan seni, ilmu dikonfrontasikan dengan agama, bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Epistemologi dan Pendidikan

Manusia memperoleh pengetahuan dari beberapa sumber, maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”? Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan:

a.Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.

b.Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.

c.Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Segala sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang segala sesuatu seperti keadaanya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).

Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.

d.Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.
Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.
Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. Pengetahuan yang didapat dari dalam dirinya sendiri, muncul tiba-tiba dalam kesadaran manusia hsil penghayatan pribadi, validitasnya sangat bersifat pribadi. Intuisi mempengaruhi kita bahwa kita mengetahui sesuatu namun kita tidak mengetahui bagaimana kita mengetahui. Bagi guru tidak hanya mngetahui bagaimana peserta didik memperoleh pengetahuan melainkan juga bagaimana peserta didik belajar.

e. Pengetahuan wahyu

Manusia memperoleh pengetahuan dan kebenaran atas dasar wahyu yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tuhan telah memberi pengetahuan dan kebenaran kepada manusia pilihannya, yang dapat dijadikan petunjuk bagi manusia dalam kehidupannya. Wahyu merupakan firman Tuhan, kebenarannya adalah mutlak dan abadi. Pengetahuan wahyu bersifat eksternal, artinya pengetahuan tersebut berasal dari luar manusia.

Di dalam pendidikan, epistemologi sangat penting untuk dipelajari karena alasan yang mendasar dari pertimbangan srategis, pertimbangan kebudayaan dan pertimbangan pendidikan. Ketiganya berpangkal pada pentingnya pengetahuan pada kehidupan manusia. Berdasarkan pertimbangan srategis, epistemplogi perlu karena pengetahuan sendiri merupakan hal yang sacara srategis perlu bagi perkembangan manusia, berdasarkan pertimbangan kebudayaan, penjelasan yang pokok adalah kenyataan bahwa pengetahuan merupakan salah satu unsur dasar kebudayaan. Dari segi petimbangan kebudayaan mempelajari epistemologi diperlukan untu mengungkap pandangan epestimologis yang seharusnya ada dan terkandung dlam setiap kebudayaan. Sedangkan berdasarkan pertimbangan pendidikan, epistemologi perlu dipelajari karena manfaatnya untuk bidang pendidikan secara faktual.

Kegunaan memahami epistemologi bagi pendidikan dikemukakan oleh Imam Barnadib (1976:12) sebagai berikut:

Epistemologi diperlukan antara lain dalam hubungan dengan penyusunan dasar kurikulum. Kurikulum yang lazimnya diartikan sebangai sarana untuk mencapai tujuan pendidikan, dapat diumpamakan sebagai jalan raya yang perlu dilewati oleh peserta didik atau murid dalam usahanya untuk mengenal dan memahami pengetahuan. Agar mereka berhasil dalam mencapai tujuan perlu diperkenalkan sedikit demi sedikit hakikat dari pengetahuan.

Epistemologi sangat berguna bagi teori pendidikan (filsafat pendidikan) dalam menentukan kurikulum, pengetahuan apa yang harus diberikan pada anak,diajarkan di sekolah, bagaimana cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut, begitu juga bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut.

2.1.1 Pengetahuan/muatan yang harus diberikan kepada peserta didik Tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah menurut Undang-Undang No 20 th 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut:

a. pendidikan agama;

b. pendidikan kewarganegaraan;

c. bahasa;

d. matematika;

e. ilmu pengetahuan alam;

f. ilmu pengetahuan sosial;

g. seni dan budaya;

h. pendidikan jasmani dan olahraga;

i. keterampilan/kejuruan; dan

j. muatan lokal.

2.1.2 Alat/media Pembelajaran

Definisi media pembelajaran. Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima (Heinich et.al., 2002; Ibrahim, 1997; Ibrahim et.al., 2001). Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan (Criticos, 1996).

Atau bisa dikatakan media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat,pikiran, dan perasaan peserta didik dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar. Posisi media pembelajaran. Oleh karena proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi

juga tidak akan bisa berlangsung secara optimal. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran.

Fungsi Media Pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, media memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (peserta didik).

Klasifikasi media pembelajaran.

Media pembelajaran diklasifikasi berdasarkan tujuan pemakaian dan karakteristik jenis media. Terdapat lima model klasifikasi, yaitu menurut: (1) Wilbur Schramm, (2) Gagne, (3) Allen, (4) Gerlach dan Ely, dan (5) Ibrahim.

Menurut Schramm, media digolongkan menjadi media rumit, mahal, dan media sederhana. Schramm juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputan, yaitu (1) liputan luas dan serentak seperti TV, radio, dan facsimile; (2) liputan terbatas pada ruangan, seperti film, video, slide, poster audio tape; (3) media untuk belajar individual, seperti buku, modul, program belajar dengan komputer dam telpon. Menurut Gagne, media diklasifikasi menjadi tujuh kelompok, yaitu benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar bergerak, film bersuara, dan mesin belajar. Ketujuh kelompok media pembelajaran tersebut dikaitkan dengan kemampuannya memenuhi fungsi menurut hirarki belajar yang dikembangkan, yaitu pelontar stimulus belajar, penarik minat belajar, contoh prilaku belajar, memberi kondisi eksternal, menuntun cara berpikir, memasukkan alih ilmu, menilai prestasi, dan pemberi umpan balik. Menurut Allen, terdapat sembilan kelompok media, yaitu: visual diam, film, televisi, obyek tiga dimensi, rekaman, pelajaran terprogram, demonstrasi, buku teks cetak, dan sajian lisan. Di samping mengklasifikasikan, Allen juga mengaitkan antara jenis media pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Allen melihat bahwa, media tertentu memiliki kelebihan untuk tujuan belajar tertentu tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain. Allen mengungkapkan enam tujuan belajar, antara lain:

info faktual, pengenalan visual, prinsip dan konsep, prosedur, keterampilan, dan sikap. Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan belajar; ada tinggi, sedang, dan rendah. Menurut Gerlach dan Ely, media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya atas delapan kelompok, yaitu benda sebenarnya, presentasi verbal, presentasi grafis, gambar diam, gambar bergerak, rekaman suara, pengajaran terprogram, dan simulasi.

Menurut Ibrahim, media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta kompleks tidaknya alat dan perlengkapannya atas lima kelompok, yaitu media tanpa proyeksi dua dimensi; media tanpa proyeksi tiga dimensi; media audio; media proyeksi; televisi, video, komputer.

Berdasarkan pemahaman atas klasifikasi media pembelajaran tersebut, akan mempermudah para guru atau praktisi lainnya dalam melakukan pemilihan media yang tepat pada waktu merencanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Pemilihan media yang disesuaikan dengan tujuan, materi, serta kemampuan dan karakteristik pebelajar, akan sangat menunjang efisiensi dan efektivitas proses dan hasil pembelajaran.

2.1.3 Prosedur atau Metode Pembelajaran

Metode adalah prosedur untuk membantu peserta didik dalam menerima dan mengolah informasi guna mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut Dewey , dalam Uyoh Sadulloh, metode yang sebaiknya digunakan dalam pendidikan adalah metode disiplin, bukan dengan kekuasaan. Kekuasaan tidak dapat dijadikan metode pendidikan karena merupakan suatu kekuatan yang datang dari luar, dan didasari oleh suatu asumsi bahwa ada tujuan yang baik dan benar secara objektif, dan si anak dipaksa untuk mencapai tujuan tersebut. Kekuasaan tidak sesuai dengan kemauan dan minat anak serta gurulah yang menentukan segala-galanya. Guru memaksakan bahan pengajaran kepada anak, dan guru pulalah yang berpikir untuk anak. Dengan cara demikian tidak mungkin anak akan mempunyai perhatian yang spontan atau minat langsung terhadap bahan pelajaran.

Sebenarnya tidak ada pemikiran yang mendalam tentang metode, tetapi metode apapun yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan dan karakter yang baik.

Berdasarkan Peraturan Menteri pendidikan Nasional RI No 41 tahun 2007 tentang Standar proses, pada kegiatan inti Pembelajaran menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

a. Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi guru:

1. Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menggunakan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber

2. Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain

3. Memfasilitasi terjadinya interaksi antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya

4. Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran, dan

5. Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan

b. Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

1. Membiasakan peseta didik membaca menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna

2. Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis.

3. Memberi kesempatan untuk berfikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut.

4. Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif

5. Memfasilitasi peserta didik berkompetensi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar

6. Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara indifidual maupun kelompok.

7. Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok.

8. Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan

9. Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan dan rasa percaya diri peserta didik

c. Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

1. memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didk

2. memberikan konfirmasi terhadap hasil elsplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagi sumber

3. memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan

4. memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:

a. berfungsi sebagai nara sumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan,dengan menggunaka

3.1.4 Hal-hal yang harus diperhatikan agar anak mendapatkan pengetahuan yang benar

Menurut James, dalam Uyoh Sadulloh, pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang berguna. Beberapa hal yang harus diperhatikan guru agar anak mendapatkan pengetahuan yang benar diantaranya:

a. Guru tidak boleh memaksakan suatu ide atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan kemampuan peserta didik.

b. Guru hendaknya menciptakan suatu situasi yang menyebabkan peserta didik akan merasakan adanya suatu masalah yang ia hadapi, sehingga timbul minat untuk memecahkan masalah tersebut.

c. Untuk membangkitkan minat anak hendaklah guru mengenal kemampuan serta minat masing-masing peserta didik.

d. Guru harus dapat menciptakan situasi yang menimbulkan kerjasama dalam belajar, antara peserta didik dengan peserta didik, antara peserta didik dengan guru, begitu pula antara guru dengan guru.

2.2 AKSIOLOGI DAN ETIKA PENDIDIKAN

Aksiologi dalam fisafat ilmu berarti menyajikan hubungan antara etika dan ilmu, dimana etika sangat terkait hubungannya (inhaerent) dengan ilmu. Persoalan aksiologi adalah seputar bebas nilai atau tidaknya ilmu, hal ini merupakan persoalan yang rumit, tak mungkin dijawab dengan sekedar ya atau tidak. Aksiologi juga merupakan studi tentang prinsip-prinsip dan konsep yang mendasari penilaian terhadap prilaku manusia. Contohnya tindakan yang membedakan benar atau salah menurut moral, apakah kesenangan merupakan ukuran dapat dikatakan sebagai ukuran yang baik, apakah putusan moral bertindak sewenang-wenang atau bertindak sekendak hati.

Pendidikan secara langsung berkaitan dengan nilai. Berdasarkan nilai tersebut,pendidikan dapat menentukan tujuan, motivasi, kurikulum, metode belajar, dan sebagainya.Pendidikan terlebih dahulu harus menentukan nilai mana yang akan dianut sebelum menentukan kegiatannya. Hal ini berarti bahwa nilai terletak dalam tujuan. Pembahasan nilai nilai pendidikan terletak di dalam rumusan dan uraian tentang tujuan pendidikan. Sebagai buktinya, tujuan pendidikan nasional, berdasarkan Undang-Undang No.20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang:

beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan

menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Etika merupakan bagian dari aksiologi. Menurut Sadulloh (2009), istilah etika berasal dari kata “ethos” (Yunani) yang berarti adat kebiasaan. Dalam istilah lain, para ahli yang begerak dalm bidang etika menyebutnya dengan “moral”, berasal dari bahasa Yunani, juga berarti kebiasaan. Walaupun antara etika dan moral terdapat perbedaan, tetapi para ahli tidak membedakannya dengan tegas, bahkan secara praktis cenderung untuk memberi arti yang sama. Etika merupakan cabang aksiologi yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai “betul” (right), “salah”(wrong) dalam arti “susila”(moral) dan “tidak susila” (immoral).

2.2.1 Nilai-nilai yang guru kenalkan pada peserta didik untuk diadopsi

Kompetensi Kepribadian adalah salah satu kompetensi yang mutlak harus dimiliki oleh guru, kepala sekolah, pengawas pendidikan. Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No 16 tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, menjelaskan bahwa seorang guru harus memiliki Kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional.

Pada Kompetensi Kepribadian, guru dituntut untuk:

1. bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional pendidikan. Dalam hal ini seorang guru harus:

a. menghargai peserta didik tanpa membedakan keyakinan yang dianut, suku, adat-istiadat, daerah asal dan gender

b. bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum dan norma sosial yang belaku dalam masyarakat, serta kebudayaan nasional Indonesia yang beragam

2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat. Guru diharapkan:

a. Berperilaku jujur, tegas dan manusiawi

b. Berperilaku yang mencerminkan ketakwaan dan akhlak mulia

c. Berperilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik dan anggota masyarakat di sekitarnya.

3. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa:

a. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap dan stabil

b. Menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif dan berwibawa

4. Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi gurum dan rasa percaya diri:

a. Menunjukkan etos kerjadan tanggung jawab yang tinggi

b. Bangga menjadi guru dan percaya diri sendiri

c. Bekerja mandiri secara profesional

5. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru:

a. Memahami kode etik profesi guru

b. Menerapkan kode etik profesi guru

c. Berperilaku sesuai dengan kode etik guru

Kompetensi kepribadian guru di atas mutlak dimiliki oleh seorang guru karena guru bagaikan orang tua di sekolah yang sikap dan tingkah lakunya dijadikan panutan dan diadopsi oleh peserta didik. Hal tersebut merupakan cerminan dari kata bijak yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, seorang pendidik dan atasan harus Ing Ngarso sung tulodho (di depan memberikan teladan)

2.2.2 Etika dalam profesi guru

a. Dilihat dari kepentingan peserta didik

KODE ETIK

KEPENTINGANNYA

1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila

· Guru dalam membimbing peserta didik perlu bersifat humanis-demokratik untuk menciptakan situasi pendidikan agar tercipta konformitas internalisasi bagi peserta didiknya.

· Guru perlu mendorong berkembangnya kemampuan yang ada pada diri peserta didik agar peserta didik dapat mengembangkan kedirian dan kemandirianya. Pengembangan kebebasan disertai dengan pertimbangan rasional, perasaan, nilai dan sikap, ketrampilan dan pengalaman diri peserta didik.

2. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagi bahan melakukan bimbingan dan pembinaan

· Guru perlu menghadapi anak didiknya secara tepat sesuai dengan sifat-sifat khas yang ditampilkan anak didiknya itu.

· Guru perlu menghadapi anak dengan benar dalam membentuk tingkah laku yang benar.

· Guru harus terhindar dari pemahaman yang salah tentang anak, khususnya mengenai keragaman proses perkembangan anak yang mempengaruhi keragaman kemampuannya dalam belajar.

3. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya PBM

· Guru seharusnya memahami perkembangan tingkah laku peserta didiknya. Apabila guru memahami tingkahlaku peserta didik dan perkembangan tingkah laku itu, maka strategi, metode, media pembelajaran dapat dipergunakan secara lebih efektif.

· Tugas yang penting bagi guru dalam melakukan pendekatan kepada peserta didik adalah menjadikan peserta didik mampu mengembangkan keyakinan dan penghargaan terhadap dirinya sendiri, serta membangkitkan kecintaan terhadap belajar secara berangsur-angsur dalam diri peserta didik.

·  Sesuai dengan pendapat Prayitno, bahwa pembelajaran harus sesuai konsep HMM (Harkat dan Martabat Manusia). Antara guru dan peserta didik terjalin hubungan yang menimbulkan situasi pendidikan yang dilandasi dua pilar kewibawaan dan kewiyataan. Pengaruh guru terhadap peserta didik didasarkan pada konformitas internalisasi.

4. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran professional

· Kejujuran adalah salah satu keteladanan yang harus dijaga guru selain prilaku lain seperti mematuhi peraturan dan moral, berdisiplin, bersusila dan beragama.

· Guru harus menjaga keteladanan agar dapat diterima dan bahkan ditiru oleh peserta didik.

5. Menjaga hubungan baik dengan orangtua, murid dan masyarakat sekitar untuk membina peran serta dan tanggung jawab bersama terhadap pendidikan

· Guru harus bekerjasama dengan orangtua dan juga lingkungan masyarakat dalam pendidikan. Tanggung jawab pembinaan terhadap peserta didik ada pada sekolah, keluarga, dan masyarakat.

· Hal yang menyangkut kepentingan si anak seyogyanya guru (sekolah) mengajak orangtua dan bahkan lingkungan masyarakat untuk bermusyawarah.

b. Dilihat dari kepentingan antar pendidik

KODE ETIK

KEPENTINGANNYA

6. Seorang guru harus saling menghormati dan menghargai sesama rekan seprofesi

· Etos kerja harus dijaga dengan menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dinamis, serta menjaga hubungan baik dengan saling menghormati dan menghargai dan mau bekerjasama/ saling menolong antar sesame guru.

7. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya

· Seharusnya guru tetap berusaha memacu diri untuk selalu mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan dengan usaha pengembangan diri yang optimal melalui pelatihan, penataran, atau seminar. Jika mutu guru baik, maka martabat profesi guru juga akan meningkat.

· Guru juga seharusnya merubah paradigma lama dengan paradigma baru yang sesuai dengan tuntutan kurikulum serta senantiasa terus melakukan upaya perbaikan dalam meningkatkan mutu pendidikan

·  Guru tidak melakukan perbuatan yang bertentangan peraturan Negara dan norma yang berlaku yang dapat menjatuhkan harkat dan martabat guru.

8. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial

· Perlu ada hubungan yang harmonis antar sesama profesi guru. Tidak saling merendahkan guru lain. Justru sebaliknya harus saling menjaga martabat profesi guru. Segala persoalan diselesaikan dengan musyawarah dan semangat kekeluargaan. Terhadap sesama guru harus mau saling bekerjasama dan memiliki kesetiakawanan social (saling menolong).

9. Guru bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdiannya

· Sebagai anggota PGRI, guru seharusnya aktif terlibat dalam kegiatan organisasi. Berusaha meningkatkan perjuangan dan pengabdiannya terhadap dunia pendidikan bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya.

· Menjaga martabat PGRI sebagai organisasi guru.

10. Guru bersama-sama melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.

· Seharusnya guru secara bersama-sama membuat perangkat pembelajaran (program tahunan, program semester, silabus, RPP, dan sistem penilaian) sesuai kurikulum yang berlaku. Perangkat disiapkan terencana dan terjadwal.

· Guru/sekolah dilarang membuat kebijakan yang bertentangan dengan pemerintah di bidang pendidikan.

Karena kode etika itu adalah nilai-nilai maka ia perlu dihayati dan diamalkan, bukan sekadar diketahui dan dihafalkan. Pengetahuan tentang etika dapat membantu guru memecahkan banyak dilema yang muncul di kelas. Seringkali, para guru harus mengambil tindakan dalam situasi-situasi dimana mereka tidak mampu mengumpulkan semua fakta relevan dan dimana tidak ada arah tindakan yang tunggal yang secara total benar atau salah. Etika dapat menyumbangkan kepada guru cara-cara berfikir mengenai permasalahan-permasalahan yang sulit untuk menentukan arah tindakan yang benar. Cabang dari filsafat ini juga membantu guru memahami bahwa “pemikiran etis dan pembuatan keputusan bukanlah semata-mata mengikuti aturan-aturan”.

Nilai-nilai etika juga seharusnya ditanamkan dalam pribadi para pemimpin pendidikan (kepala sekolah), guru, staf dan anak didik.

BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan:

1. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?.

2. Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral? Sekolah atau pendidikan harus mampu memberikan ilmu pengetahuan (ontologi), mempertajam penalaran (epistemologi), dan memberikan karakter positif kepada manusia agar memanfaatkan ilmunya agar bermanfaat (aksiologi), tidak hanya untuk dirinya, melainkan juga masyarakat dan alam atau lingkungan hidup.