
SETAN LEBIH SUKA PADA PELAKU BID’AH DARI PADA PELAKU MA’SIYAT.
(oleh: Drs. H. Munib)
Penulis pernah membaca dan sependapat bahwa memang setan lebih suka pada pelaku bid’ah dari pada pelaku ma’siyat ; karena Nabi Muhammad mengajarkan bahwa perbuatan ma’siyat dan bid’ah itu sama-sama tersesat. Setan selalu berusaha menyesatkan.
Pelaku bid’ah menganggap perbuatannya itu baik, berpahala, dia berusaha mengajarkan secara terang-terangan dan melestarikan sehingga semakin banyak pengikut yang tersesat. (setan suka )
Pelaku ma’siyat mengetahui bahwa perbuatannya itu merupakan pelanggaran, biasanya dilakukan secara bersembunyi, tidak mengajarkan kepada keluarganya, tidak berusaha mengembangkan atau melestarikan. (Setan kurang suka) .
Bid’ah biasanya berdasar Hadis lemah atau palsu sengaja dibuat oleh musuh-musuh Islam.
Dampak bid’ah amat buruk terhadap agama. Agama rusak karena bid’ah itu dialami oleh agama-agama besar yang tidak memiliki kitab suci yang asli dan tidak ada ajaran yang melarang bid’ah sehingga tidak punya dasar sebagai pedoman untuk meluruskan penyimpangan. Padahal semua pengamalan ibadahnya sekarang adalah hasil karangan pemuka-pemukanya, bukan ajaran nabinya.
Ritual ibadah itu menyangkut masalah gaib yang tidak terjangkau indera dan akal manusia jadi seharusnya dari nabinya yang menerima wahyu dan punya mu’jizat. Nyanyian, pujian, wiridan dan tingkah laku ibadahnya yang ada sekarang tidak lebih hanya sebagai hasil seni budaya karya manusia biasa. Setan memang selalu berusaha menyesatkan manusia supaya berbuat bid’ah dan syirik yang tidak diajarkan oleh para nabinya. (Baca:Agama rusak karena bid’ah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar