
TANGGUNG JAWAB AGAMA
(oleh: Drs. H. Munib)
Orang awam,siswa, memperhatikan, merenung kemudian bertanya: Bagaimana tanggung jawab Islam sebagai agama yang dipeluk mayoritas rakyat Indonesia, dikenal sebagai muslim terbesar di dunia.
TANYA: Apa benar Islam itu rahmat bagi seluruh alam ? Apa benar Islam itu mendorong atau menghambat kemajuan ? Karena nyatanya:
Indonesia wilayahnya luas, tanahnya subur, tetapi tidak makmur, banyak pengangguran, kemiskinan, kejahatan, premanisme, tawuran, bentrok antar warga, antar siswa, antar mahasiswa, banyak demo ketidakadilan, korupsi di semua sektor semua tingkat, pemuka agama banyak beda faham, kehilangan wibawa. Siapa yang benar, dimana salahnya ?
JAWAB: Nabi Muhammad : “Agama Yahudi pecah 71 golongan satu yang benar , Nasarani pecah 72 golongan, satu yang benar, Islam pecah 73 golongan, satu yang benar. Nabi ditanya siapa yang satu itu? Nabi menjawab: “Yaitu yang berdasar AlQur’an, Sunnahku, sahabat-sahabatku.” Yang satu ini sekarang terkenal disebut: “Ahli Sunnah wal Jama’ah” Semua golongan yang ada sekarang mengaku bahwa merekalah sebagai “Ahli Sunnah wal Jama’ah”. Adapun nyatanya ? Mereka tidak sadar atau tidak tahu bahwa mereka nyatanya bukan ahli Sunnah, tetapi ahli Bid’ah ! tidak tahu bahwa Sunnah/Hadis yang mereka gunakan itu adalah Hadis lemah atau palsu.
Nabi Muhammad mengingatkan bahwa dalam hal agama harus berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah dan melarang mengada ada ajaran atau aturan baru (itu yang disebut Bid’ah, dan setiap bid’ah dinyatakan tersesat). Umat Islam diperintah / dianjurkan mengikuti Sunnah, dilarang / dicela mengikuti Bid’ah. Adapun Bid’ah yang dilarang itu dalam hal ibadah dan akidah yang menyangkut masalah gaib (yang tidak bisa dijangkau oleh indera dan akal manusia). Ada alam gaib, ada alam syahadah (yang nyata,bisa dijangkau oleh panca indera dan akal manusia). Masalah dunia (alam syahadah) Nabi bersabda: “Kamu lebih mengetahui tentang urusan duniamu”. Jadi, tidak ada larangan berbuat bid’ah dalam urusan dunia (sarana, prasarana, peralatan, tehnologi, pakaian, metode pengajaran, makanan dsb) asal tidak melanggar larangan.
Dalam ilmu agama ada prisip hukum bahwa:
“Semua masalah muamalah/ibadah umum, pada dasarnya “hukumnya boleh” kecuali yang dilarang.
“Semua masalah akidah/ibadah khusus, pada dasarnya “hukumnya dilarang” kecuali yang diperintah.
AGAMA RUSAK KARENA BID’AH
Agama-agama besar rusak karena bid’ah-bid’ah yang dibuat oleh para pemuka-pemuka agama, ritual-rituanya diubah dan ditambah menurut selera sehingga ajaran Nabinya bergeser, berubah bahkan ajaran dasarnyapun diubah , Nabinya dipuja berlebihan sehingga setaraf Tuhan. Diciptakan nyanyian-nyanyian pujian sehingga dianggap sebagai ritual yang lebih baik dari pada sujud yang dulu dilakukan oleh nabinya (Ibrahim, Musa, Isa/Yesus dll begitulah kita baca dalam Bybel ). Sekarang kita melihat umat agama itu tidak melaksanakan sujud kepada Tuhannya. Karena agama –agama sebelum Islam itu tidak memiliki Kitab suci yang asli dan tidak ada ajaran yang melarang berbuat bid’ah, maka kerusakan agama-agama itu sudah tidak dapat tertolong,
Kita melihat umat Islam Indonesia banyak mengikuti kiai, ustad yang mengajarkan amalan-amalan bid’ah. Untungnya Islam memiliki kitab suci Al Qur’an yang tetap asli dan Sunnah/Hadis sahih sebagai pegangan dasar untuk mengoreksi dan menunjukkan siapa-siapa yang mengikuti amalan sunnah dan siapa-siapa yang mengikuti amalan bid’ah.
Kita melihat mayoraits umat Islam Indonesia termasuk para pejabat kalangan atas mengamalkan ajaran bid’ah-bid’ah yang tidak sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Sunnah/Hadis sahih, sehingga bisa dikatakan imannya kacau, campur aduk dengan tahayul, khurafat, syirik. Keadaan itu bisa diketahui oleh orang yang faham ajaran Islam; jadi kalau Islam dimintai pertanggungan jawab adanya kebobrokan Indonesia sebagai muslim terbesar di dunia, maka perlu dibedakan antara “Islam” dengan “umat Islam"
Nabi Muhammad menjamin bahwa umat Islam akan baik di dunia dan akhirat dan tidak tersesat apabila berpegang teguh Al Qur’an dan Sunnah/Hadis sahih.
Kalau umat Islam pengamalan agamanya tidak sesuai bahkan bertentangan dengan Islam, maka siapakah yang salah ? Siapakah penyebab kebobrokan Indonesia ? Kita perlu beragama berdasarkan “Ilmu”. Kalau pada mulanya beragama karena keturunan, jabatan, penikahan, pengobatan, balas jasa, penampsilan dsb, maka harus ditingkatkan beragama berdasarkan ilmu. Tanpa ilmu agama akan kacau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar