Selasa, 09 November 2010

NAK, JADILAH KAU KUPU-KUPU YANG BISA TERBANG TINGGI.....!!!




Jam ke tiga ini giliranku ngajar di kelas IX G. Kumasuki kelas dengan senyum dan perasaan riang. Setelah menyapa murid-murid dan mempersiapkan mereka untuk memulai pelajaran, kutanyakan apakah PR tentang Procedure Text yang kemarin kuberikan telah mereka kerjakan.
“Sudaaaaah...!”, jawab murid- murid. Sebagian lagi, kurang lebih 20% dari mereka, menjawab, “beluuuuuum...!’’
Setelah mengecek hasil kerja mereka, aku tahu bahwa banyak siswa hanya menyalin PR hasil temannya. Maka dengan tersenyum aku berkata, “ Ibu puas dengan hasil kerja kalian tapi sayangnya tidak semuanya mengerjakan. Padahal jika kalian mengerjakan PR pasti kalian bisa mengerjakan tugas yang akan ibu berikan hari ini.”
Coba dengarkan ibu..! Setiap makhluk, khususnya manusia, di dunia ini membutuhkan belajar dan usaha keras untuk mencapai keberhasilan. Ada sebuah contoh. Fulan adalah seorang anak pejabat yang sangat kaya. Dia dibelikan beberapa ijazah sarjana dan Sertifikat Kursus Komputer, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jerman oleh orang tuanya. Semua ijazah sarjana dan sertifikat kursus dengan nilai yang sangat memuaskan dia miliki meskipun dia tidak pernah kuliah dan mengikuti kursus apapun. Menurut kalian, apakah si Fulan ini akan bisa melalui setiap tantangan dalam pekerjaannya dengan baik? Apa yang akan ditemui Fulan ketika terjun ke dunia kerja...? Beberapa jawaban mengalir dari mulut mereka,” Tidak, karena si Fulan sebenarnya belum pernah belajar untuk hidup.Dia akan kesulitan ketika bekerja” Ada lagi yang menjawab, “Tidak akan, karena setiap tantangan pekerjaan membutuhkan keterampilan dan keahlian yang baik.” Dan beberapa murid menjawab dengan jawaban yang senada.
Aku melanjutkan penjelasanku, “Ibu punya sebuah cerita, dengarkan baik-baik. Ada seorang penyayang binatang bernama Ronald. Suatu hari Ronald mengamati ulat-ulat peliharaannya yang sedang bermetamorfosis dari sebuah kepompong menjadi kupu-kupu. Ronald tertarik dengan salah satu ulat yang dengan semangat tinggi berusaha lepas dari kepompongnya. “ aku bercerita dengan penuh perasaan dan kadang-kadang aku peragakan agar lebih menjiwai cerita.
Setelah beberapa saat aku melanjutkan, “Si Ulat seperti tak kenal lelah menggeliatkan seluruh badannya dengan sekuat tenaga. Beberapa bagian tubuhnya sudah berhasil lepas dari kepompongnya. Tapi kedua sayapnya masih terperangkap di dalam balutan kepompong. Dia terus berusaha menarik kedua sayapnya. Ketika tubuhnya semakin melemah, ulat tersebutpun berhenti bergerak.
“Kau pasti sangat lelah ulatku yang manis. Jangan khawatir, aku akan menolongmu.” kata Ronald dalam hati. Dengan lembut Ronald mengambil kepompong tersebut, merobek sebagian kulit kepompong agar sayap yang masih lemah itu dapat tergerai bebas.
“Berhasil...!! kedua sayapnya telah terlepas bebas..,tapi..mengapa sayapnya tidak tergerai...,masih terlihat basah dan tetap lemah..? Mungkin dia masih perlu waktu.”pikir Ronald.
Ronald dengan setia menunggu proses kupu-kupu mungil itu untuk terbang tapi si kupu-kupu tetap tidak terbang. Sayapnya bergerak-gerak pelan..tapi sepertinya tidak kuat untuk digunakan terbang. Ronald meneteskan air matanya. Dia sangat menyesal telah membantu proses metamorfosis kupu-kupu kesayangannya. Dia bukan membantu..tapi malah membuat kupu-kupunya menjadi kupu-kupu yang lemah. Sesungguhnya proses metamorfosa yang sulit dan melelahkan itu adalah sebuah proses yang diciptakan Allah untuk melatih diri agar bagian-bagian tubuh kupu-kupu kuat. Dengan otot yang terlatih kuat, kupu-kupu akan bisa menjalani kehidupannya dengan tangguh. “Dia akan kuat mengepakkan sayapnya jutaan kali, berkeliling mencari madu hingga akhir hayatnya.” ungkapku mengakhiri cerita.
Aku melirik jam di tanganku. Sudah 15 menit aku bercerita.
“Nah, dari beberapa cerita yang telah ibu ceritakan tadi...dapat kita simpulkan bahwa tidak ada kesuksesan tanpa sebuah proses yang kita lakukan dengan kerja keras. Semakin kuat kita mengasah pisau yang tumpul maka semakin tajam pisau yang kita dapatkan. Semakin giat kalian mengerjakan tugas-tugas yang ibu berikan, semakin terampil kalian dalam mengerjakan soal. Kalian mengerti..?
“Iya, Bu..! “jawab mereka penuh semangat.
Aku memandang wajah-wajah mereka dengan penuh kasih.
“Baiklah, sekarang kita akan lanjutkan pelajaran kita. Kemarin kalian telah belajar How to use rice cooker. Sekarang, ibu memberi kalian uang Rp. 2000,- dan waktu 15 menit untuk membeli jus jambu di Mang Yanto. Silahkan menanyakan, mengamati dan mencatat prosesnya dan melaporkannya kepada Ibu dalam bentuk Procedure Text dengan judul How To make Guava Juice atau How to use a Blender. Bagi Siswa yang paling bagus dan paling cepat mengerjakan laporannya, dia berhak mendapatkan Guava Juice yang telah dibeli.” Ungkapku dalam Bahasa Inggris.

Kutatap murid-murid yang berlarian menuju warung Mang Yanto. Dengan tersenyum kudampingi mereka mengumpulkan data untuk laporannya. Sambil mengambil foto kegiatan mereka, aku berkata dalam hati, “Nak, Jadilah kau kupu-kupu yang bisa terbang tinggi....!”

Senin, 08 November 2010

ERUPSI MERAPI : BUKTI CINTA ATAUKAH MURKA ALLAH...?


ERUPSI MERAPI : BUKTI CINTA ATAUKAH MURKA ALLAH...?
(oleh: Nita Helida, S.Pd.)

Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 memang sangat dahsyat. Disinyalir bahwa ini adalah letusan terbesar sejak 140 tahun terakhir. Berita tentang korban meninggal dan luka-luka akibat awan panas “wedhus gembel” sangat memilukan hati siapapun yang mendengar dan menontonnya. Belum lagi cerita tentang para pengungsi yang kehilangan keluarga, harta, lahan pekerjaan dan sebagainya.
Komentar tentang bencana Merapipun datang dari berbagai pihak. Mulai komentar tentang meninggalnya Mbah Marijan, sang juru kunci Merapi, sampai apa maksud Allah dengan kejadian ini.
Bagi kaum beriman, sejumlah musibah itu akan dibaca sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Dengan berbagai tanda itu kita diminta merenung, bahwa jika ayat-ayat-Nya yang tertulis sudah mulai kita lupakan maka Allah (akan) menghamparkan ayat-ayat tak tertulis-Nya (Kauniah). Ada ayat gempa, ayat tsunami, ayat gunung meletus, ayat banjir bandang, ayat lumpur panas, dan sebagainya. Bisakah kita menangkap pesan di balik berbagai ayat Allah itu? Sebagian orang menganggap bencana ini adalah adzab, beberapa yang lain menganggapnya sebagai teguran, ujian, dan sebagian yang lain memberikan beberapa komentar yang berbeda-beda. Bahkan lirik lagu Ebiet G.Adepun, “mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita...”, dipakai untuk menyimpulkan maksud Allah atas bencana ini.
Saya teringat tahun 1970an, ketika nenek saya bercerita tentang gunung meletus. Beliau berkata bahwa meletusnya masing-masing gunung itu sudah ada rumus waktunya. Gunung Kelud yang ada di Jawa Timur, meletus sekian windu sekali (saya lupa tepatnya), demikian juga gunung-gunung yang lain. Rumus waktu itu biasanya tepat, hanya bergeser tanggal dan bulannya. Saat ini saya jadi berpikir, bahwa selain sebagai teguran, ujian, atau hal yang lainnya, sebenarnya meletusnya sebuah gunung itu adalah sebuah proses alam biasa yang sudah ada rumus waktunya, yang telah digariskan oleh Allah.
Komentar lain yang menurut saya menarik adalah komentar yang datangnya dari pakar Geologi (saya tidak mencatat namanya) yang diwawancari oleh TV one pagi ini ( 08 Nopember 2010). Beliau berkata bahwa semburan abu vulkanik yang sangat kuat, yang membumbung ke atas hingga 10 km dari puncak merapi, akan mencapai stratosfer. Apa efeknya? Ringkasnya, ternyata abu vulkanik yang mencapai stratosfer tersebut, setelah melalui proses tertentu bisa “menambal” lubang ozon ! Apa manfaatnya untuk bumi dan segala kehidupan di dalamnya? Suhu bumi akan menurun beberapa derajat . Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa suhu bumi semakin meningkat. Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa: Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Hal ini akibat dari global warming. Global warming yang kita bingung menanggulanginya, ternyata terbantu dengan adanya letusan Merapi ini..! Subhanallah. Betapa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Ternyata, di balik bencana yang terlihat sangat mengerikan, cinta Allah kepada makhlukNya demikian besar. Dalam Alquran dijelaskan bahwa tidak ada satupun yang diciptakan oleh-Nya sebagai sesuatu yang sia-sia. Dengan kata lain, bencana alam, meskipun merupakan gejala alam biasa, namun mengandung banyak pesan yang beragam, sesuai dengan kapasitas pembaca ayat –ayat KauniahNya.
Wallahu A’lam bishawab.