Membaca puisi bagi sebagian orang adalah hobby. Bagi sebagian yang lain adalah wahana untuk berwisata hati
dan pikiran, ekspresi jiwa yang luas, dan sebagainya. Tapi tidak hanya itu
makna membaca puisi untuk Sahlan. Baginya,
selain hobby dan hentakan jiwa, puisi adalah sebuah kunci pembuka masa
depannya.
Bernama lengkap Sahlan Maulana Yusup. Dia adalah siswa kelas VIII SMP
Negeri 5 Cikalongkulon yang sangat membanggakan banyak orang, terutama sekolah,
kabupaten dan kedua orang tuanya. Siswa yang lahir di Cianjur pada tanggal 6
Juni 2003 ini adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Lahir dari seorang ibu yang bernama Geugeu
dan Ayahnya bernama Mahpud. Sahlan
berasal dari keluarga sederhana, tinggal di kampung Citampele, Desa
Mentengsari, Kecamatan Cikalongkulon, Cianjur. Dia menuntut ilmu di sebuah
sekolah kecil di kampung yang jauh dari kota. Sebuah sekolah yang baru empat
tahun lalu berdiri. Dia memang orang kampung, tetapi dia berhasil menjadi juara 1 Lomba Baca Puisi Putra pada Festival
Lomba Seni Siswa Nasional Tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2016. Mengalahkan saingan-saingannya dari berbagai
kota dan kabupaten, tidak membuatnya menjadi sombong. Dia tetap saja menjadi
siswa yang rendah hati. Sehari-hari selain aktif belajar dia adalah seorang
ketua OSIS yang disayangi oleh teman-temannya.
Saat ditanya kapan mulai
menyukai kegiatan membaca puisi, dia menjawab malau-malu, “Sejak Sekolah Dasar.
Pernah diminta oleh Ibu Guru untuk ikut lomba baca puisi tetapi hanya menjadi
juara 2 Tingkat kecamatan.” Dia menambahkan, bahwa baru benar-benar belajar membaca puisi ketika di bangku SMP
sekarang ini. Saat dilatih dengan serius di sekolah, dia akhirnya berhasil
menjadi juara tingkat provinsi tersebut.
Keberhasilannya di bidang baca
puisi ini diapresiasi oleh banyak pihak. Beberapa diantaranya adalah Kepala
Desa Mentengsari di mana dia tinggal, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Kabupaten Cianjur dan sebuah perusahaan peternakan di dekat sekolah dan
rumahnya, PT Pasir Tengah. Saat saya, sebagai kepala sekolahnya, mengenalkan Sahlan kepada Kepala Desa dan
menceritakan prestasinya, beliau langsung memberikan hadiah untuk menambah
semangat dan motivasi. Sedangkan PT Pasir Tengah selain memberikan hadiah
berupa uang tunai, perusahaan ini juga mengangkat Sahlan menjadi anak asuh
perusahaan dan akan membiayai sekolahnya untuk jenjang SMA, Sarjana bahkan
hingga Pascasarjana. Sebuah hal yang
tidak pernah disangka sebelumnya. Laksana mendapat durian runtuh. Sungguh
anugerah Allah swt yang sangat luar biasa. Saat masih banyak pelajar lain yang
bingung masalah biaya untuk melanjutkan sekolah, hadiah bea siswa sekolah ini menjadi hal yang mengharukan untuk Sahlan dan
semua orang yang menyayanginya. Masa depan Sahlan yang sebelumnya tidak pasti,
saat ini menjadi terbuka lebar. Dia tinggal menyalakan lampu-lampu jalannya
dengan ilmu-ilmu penerang untuk memuluskan langkah dan mendekatkan diri kepada
Sang Maha Berkehendak untuk mentakdirkannya menjadi mahasiswa Pascasarjana yang
diimpikannya.
Saat berita bahagia ini
disampaikan kepada Sahlan dan keluarganya, tampak keharuan yang luar biasa.
Mata kedua orang tuanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar saat mengucapkan alhamdulillah. Kebahagiaan Sahlan tampak
sekali dari raut wajahnya. Air mata yang menetes adalah tangis bahagia.
Ditambah lagi, beberapa saat yang lalu dia juga mendapat uang tunai sebesar Rp
3.000.000,- dari Kementrian Pendidikan Nasional ketika menjadi peserta Festival
Lomba Seni Siswa Nasional. Dia benar-benar tidak menyangka, membaca puisi
menjadi sebuah kunci pembuka pintu masa depannya.
Akhirnya,
peristiwa yang membahagiakan ini,
menjadi sebuah kekuatan dan motivasi bagi saya, seperti yang dimiliki Sahlan.
Terus berjalan, kadang terbang dan ada saat berlari mengerjakan semua tugas dan
tanggung jawab dengan sebaik-baiknya untuk menemukan kunci-kunci pembuka masa
depan yang lain. Bukan hanya untuk saya tetapi juga untuk sekitar kita.
